Walau Menang, AS Roma Gagal Menuju Final Coppa Italia

Lazio akhirnya mendapat tiket menuju Final Coppa Italia selama musim ini. Biancoceleste sukses mengalahkan rival utamanya, yakni AS Roma dengan skor agregat sebanyak 4-3.

Pada laga putaran yang kedua di babak semifinal yang dilaksanakan di Olimpico, pada Rabu (5/4/2017) dinihari WIB, AS Roma yang meruapakan tim tuan rumah wajib tampil dengan baik demi mengejar kekalahan di putaran pertama, yakni 0-2.

Roma memulai dengan mendominasi di menit pertama dan memiliki kesempatan yang baik pada menit ketiga. Mengawali umpan dari Emerson Palmieri, sepakan Edin Dzeko masih gagal dilakukan.  Kesempatan Roma kembali diperoleh dari Stephan El Shaarawy yang mendesak Thomas Strakosha untuk menjaga gawang dengan cepat. Strakosha juga harus menekan laju Dzeko dalam area kotak penalti.

Sergei Milinkovic-Savic muncul dengan aksinya di menit ke-37 dan juga menambah keunggulan Le Aquile menjadi 3-0. Bermula dari tendangan Ciro Immobile yang dihalangi Alisson Becker, bola mendekat ke Milinkovic-Savic yang kemudian menjadi gol. Roma kemudian membalas pada menit ke-43 saat Stefan De Vrij tak dapat menghadang serangan Antonio Ruediger dan El Shaarawy menuju gawang.

Memasuki babak yang kedua, laga kemudian berjalan lebih santai. Immobile tak dapat memaksimalkan kesempatan menambah keunggulan di menit ke-54, walau terjangannya belum membuahkan hasil. Roma kembali mengejar nilai pada menit ke-66 melalui Mohamed Salah dengan bola El Shaarawy yang mengenai tiang.

Salah lalu menambah perolehan untuk Roma pada menit ke-90 dengan 3-2. Walau menang dengan skor 3-2, Roma tetap tidak dapat melanjutkan laga ke babak selanjutnya karena kalah 0-2 di laga awal. Le Aquile mendapat agregrat skor 4-3 akan menanti hasil Juventus dan Napoli kemudian menuju final.

  • Susunan Pemain

AS Roma, yakni Alisson, Rudiger, Manolas, Juan Jesus (Bruno Peres 46′), Emerson, Paredes (Totti 81′), Strootman, Salah, Nainggolan, El Shaarawy (Perotti 71′), Dzeko.

Lazio, yakni Strakosha, Bastos, De Vrij (Hoedt 46′), Wallace, Basta, Milinkovic-Savic, Biglia (Murgia 71′), Lulic, Lukaku, Felipe Anderson (Keita 57′), Immobile.

Bugar, Winger Tangguh Ini Siap Perkuat AC Milan

Berita baik datang dari AC Milan. Sempat terpuruk setelah tak berhasil mengalahkan tim terbawah, Pescara di akhir minggu yang lalu, kini mereka bersiap dengan formasi lengkap setelah winger tangguh tim, Suso, disebut-sebut sudah bugar dari cedera otot paha kiri yang dia alami.

Sebelumnya, Suso dikabarkan akan menepi ketika memperkuat AC Milan selama sebulan yang lalu. Pesepakbola dari Spanyol tersebut memperoleh cedera ketika memperkuat tim kontra Chievo Verona, awal Maret yang lalu.

Awalnya, dia diyakini akan menepi dalam waktu dua minggu saja. Akan tetapi, dia memerlukan waktu pemulihan lebih dari yang diprediksi dan baru kembali menjalani latihan bersama di hari ini, waktu setempat.

Berita tersebut, pemain ini memiliki kesempatan untuk ikut bergabung dengan I Rossoneri ketika melawa Palermo akhir minggu nanti. Performanya dalam laga tersebut dapat digunakan sebelum laga Derby della Madonnina kontra Inter Milan beberapa hari sebelumnya.

Selama musim awalnya, pesepakbola muda berusia 23 tahun itu menjadi mesin gol untuk AC Milan dan menjadikan Inter Milan usai dengan hasil imbang, 2-2. Tidak berlebihan jika dirinya kini menjadi salah satu pemain yang penting untuk sang pelatih, Vincenzo Montella. Di musim ini, ia telah membukukan enam gol dan sembilan assist dalam 30 laganya.

Penampilan yang apik menjadikan klub ingin memberikan kontrak yang baru untuknya sampai musim 2021 yang akan datang. Dalam kontrak tersebut, pendapatan pemain dengan nama lengkap Jesus Joaquin Fernandez Saez de la Torre tersebut dipastikan akan naik dua setengah kali lipat.

Sebelumnya, disebutkan jika Suso mendapat gaji sebesar Rp 14,3 miliar per tahunnya. Jika benar demikian, pemain dengan nomor punggung 8 ini akan mendapat pendapatan sebesar Rp 35,5 miliar. Padahal, awalnya pemain yang dibeli AC Milan dari Liverpool di Januari 2015 lalu hanya dengan nilai yang cukup terjangkau, yaitu Rp 1,8 miliar.

Pep Guardiola : Tidak Mudah Mengalahkan Chelsea

Pep Guardiola mengungkapkan bahwa semuanya masih dapat berubah dalam laga di liga Premier League musim ini. Akan tetapi, dirinya mengungkapkan bahwa berupaya mengejar Chelsea juga menjadi hal yang begitu tak mudah.

Chelsea masih menjadi juara di klasemen dengan membukukan 69 poin dari 29 laga yang mereka mainkan. Akan tetapi, The Blues baru saja meraih kegagalan setelah kalah dengan skor akhir 1-2 atas Crystal Palace yang dilaksanakan di Stamford Bridge akhir minggu yang lalu.

Akan tetapi, Manchester City justru tak berhasil memakai kesempatan itu untuk menambah poin. City hanya menyelesaikan laga dengan hasil seri, yakni 2-2 kontra Arsenal dalam Premier League yang dihelat di Emirates Stadium, pada Minggu (2/4/2017) malam WIB.

Itu menjadi hasil seri di laga yang ketiga secara berturut-turut dimainkan City selama Premier League bergulir. Sergio Aguero dan rekan-rekan setim saat ini menduduki posisi yang keempat dengan hasil 58 poin dari 29 laga, selisih 11 poin dari The Blues.

Manchester City akan memperoleh peluang demi semakin dekat dengan posisi The Blues saat menjalani laga tandang ke Stamford Bridge, Rabu (5/4/2017) yang akan datang. Akan tetapi, Guardiola tak begitu optimis dapat mengalahkan Chelsea nantinya.

” Kami ingin berhasil, namun kami tidak dapat selalu bermain dengan apik dan hasil penuh kemenangan. Masih terdapat banyak laga yang dapat kami mainkan, yakni sembilan laga lagi, akan tetapi, kini terasa sulit mengejar posisi teratas. Laga kemarin, mereka kalah dan kami tidak dapat menang dan Arsenal masih sama performanya seperti di laga terdahulu, ” ujar Guardiola.

Lebih lanjut, Pep Guardiola mengungkapkan bahwa semuanya dapat terjadi di liga ini. Walau begitu, City tahu apa yang wajib kami laksanakan saat menghadapi Chelsea beberapa hari mendatang. “Kami akan segera menjalani latihan dengan baik dan memepersiapkan diri sebaik mungkin kemudian bersaing di London, ” tutupnya.

Juan Mata Absen, MU Semakin Kesulitan

Juan Mata diyakini akan menepi dari laga Manchester United sampai beberapa minggu yang akan datang. Pemain dari Spanyol tersebut menjalani operasi. Mata melaksanakan operasi di bagian pahanya,  pada Kamis (30/3/2017) waktu setempat.

Secara pasti belum diketahui berapa durasi waktu yang dia perlukan dalam hal pemulihan kondisi dan kesehatannya sampai dapat kembali ke Manchester United dan merumput kembalia. Berita ini sendiri diketahui dalam situs resmi United yang mengungkapkan bahwa Juan Mata sudah melaksanakan operasi di kunci paha. Namun, untuk proses ke depannya sebagai pemulihan masih belum dapat ditentukan, khususnya dalam hal waktu.

Absennya mata merupakan kerugian yang besar bagi MU. Apalagi saat ini mereka sedang mengusahakan babak finis di peringkat keempat besar. Mata memiliki posisi yang besar dalam rangkaian laga tidak terkalahkan MU di 18 laga berurutan Premier League, dengan periode tersebut dia menciptakan empat gol, hanya gagal dari 11 gol dari Zlatan Ibrahimovic.

Selain itu, MU akan menjalani jadwal laga di bulan April yang begitu sibuk. Terdapat sembilan laga yang akan Setan Merah laksanakan pada bulan ini, diantaranya dalam dua laga di babak perempatfinal Liga Europa musim ini dan tentunya di laga Premier League.

Manchester United kini masih setia bertengger di peringkat yang kelima klasemen di Premier League dengan hanya membukukan 52 poin, selisih empat poin dari Liverpool. Akan tetapi, United masih memiliki dua laga yang tersisa jika dilihat dari perbandingan laga The Reds. Ini menandakan peluang mereka untuk menaikkan peringkat di Liga tersebut masih sangat besar.

Walau begitu, hilangnya salah satu pemain yang kini sedang naik daun membuat United nampaknya harus waspada. Setelah ditinggal Bastian Schweinsteiger, memang Manchester United semakin memiliki jumlah pemain yang terbatas.

Nyaris Ke Juventus, Negosiasi Jam 4 Pagi Buat Nainggolan Pilih Roma

Mantan pemimpin Olahraga dari AS Roma yakni Walter Sabatini membuka proses transfer Radja Nainggolan. Ternyata pesepakbola dunia ini sempat akan bergabung dengan Juventus sebelum kemudian bergabung dengan Roma.

Radja Nainggolan diperoleh Roma dari Cagliari sebagai pemain pinjaman dalam bursa transfer pada Januari 2014 lalu. Saat itu, AS Roma memberikan tiga juta euro sewaktu dirinya menjadi pemain pinjaman dalam waktu enam bulan. Pada kesepakatan itu ada pilihan untuk Roma memberikan 6 juta euro di awal musim 2014/2015 jika ingin mendapatkan setengah statu pemilikan Nainggolan.

Seiring waktu berjalan, Roma akhirnya memutuskan untuk membeli setengah pemilikan Nainggolan dari Cagliari di musim 2014 silam. Gelandang timnas Belgia itu akhirnya menjadi pemain permanen Roma di tahun 2015.

Walter Sabatini, yang kini tidak bersama Roma sejak Oktober 2016 lalu, mengisahkan proses dirinya memperoleh Nainggolan di bursa transfer musim panas 2014 lalu. Bermula dari proses negosiasi yang dilakukan pada dinihari sukses mengubah pilihan Nainggolan dan tetap memperkuat Roma.

” Saya mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi Radja Nainggolan kala itu. Itu hanya dapat dilaksanakan oleh sosok yang mendapat dukungan penuh dari klubnya. Pada waktu itu, dia sudah akan ke Juventus, namun kami melakukan negosiasi pada waktu yang tidak mungkin, yaitu pukul 4 dini hari. Kemudian dengan jumlah 9 juta Euro kepada Cagliari kami memiliki setengah pemain ini, ” ujar Sabtini.

Menurut Sabtini, hal tersebut merupakan pekerjaan yang gila, namun dirinya merasa memiliki nyali dan mengetahui dia dibutuhkan oleh AS Roma, jadi dirinya melakukan semua untuk memperoleh salah satu pesepakbola dunia ini.

” Saat itu, saya mendapat dukungan penuh dari Presiden Roma, James Pallotta untuk mendapatkan Nainggolan, yang menyakini dia merupakan salah satu pemain masa depan untuk Roma, ” ucapnya lagi.

Radja Nainggolan saat ini memang menjadi salah satu pemain inti Giallorossi. Selama musim ini, gelandang 28 tahun itu sudah membukukan 12 gol dan menciptakan empat assist bagi Roma di semua laga mereka.

Blunder Dan Tuduhan Selingkuh Kian Perburuk Kinerja Jiang Zhipeng

Jiang Zhipeng menciptakan blunder yang membuat timnas China gagal meraih tiket menuju di babak kualifikasi Piala Dunia 2018. Semakin menyedihkan, pasalnya setelah peristiwa memalukan tersebut, dia mendapat tuduhan telah berselingkuh dari istrinya.

Timnas China gagal dengan skor 0-1 saat melawan timnas Iran dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 yang dilaksanakan di Azadi Stadium, Tehran, pada Selasa (28/3/2017) yang lalu. Gol tunggal di laga itu hanya tercipta setelah Jiang Zhipeng tak dapat memainkan bola dengan baik di tempanya sendiri, yang berujung pada hasil gol untuk Iran sendiri.

Hasil itu menjadikan China saat ini hanya membukukan 5 poin dari tujuh laganya di babak kualifikasi Piala Dunia zona AFC, selisih 12 poin dari timnas Iran yang menjadi juara klasemen. Yang paling menyita perhatian yakni blunder yang dilakukan Zhipeng itu malah diperparah dengan postingan sang istri, Zhang Ziyue, yang menuduh bahwa suaminya telah menduakannya sejak lama.

” Saya selalu ada untuknya saat dia tidak memiliki apapun dan ibu saya menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Keluarga saya bahkan menyediakan 1 juta RMB sebagai uang muka untuk rumahnya yang ada di Shanghai. Kami tidak pernah melangsungkan acara besar dan pernikahan kami tertutup. Selama kurang lebih 4 tahun menikah, kini dia sudah bersama dengan wanita lain dan ingin membuang saya yang selama ini bersamanya, ” tulis Zhang Ziyue pada Weibo-nya.

Lebih lanjut, Ziyue tidak hanya menuliskan tuduhannya tersebut. Ia juga memperlihatkan beberapa foto-foto suaminya bersama seorang wnita idaman lain yang merupakan simpanan pesepakbola tersebut.

Selain itu, semakin lengkap, Zhang Ziyue juga meminta pada pihak Federasi Sepakbola China dan Guangzhou R&F, klub Jiang Zhipeng saat ini, untuk memutuskan hukuman berat yang diberikan pada pemain timnas China tersebut.

Pirlo: Saya Pernah Konflik Dengan Allegri

Lama tak mendengar apa yang terjadi dengan legenda Italia, Andrea Pirlo kini kembali muncul di media ketika mantan pemain Juventus itu angkat bicara perihal masa lalu nya bermain di AC Milan yang sudah berlangsung 10 tahun lalu tersebut.

Dalam kesempatannya, Pirlo menjelaskan berbagai macam tantangan yang dia hadapi semenjak datang ke Juventus. Pada tahun 2011, Pirlo membuat kejutan setelah memutuskan untuk meninggalkan Rossoneri dan bergabung dengan Bianconerii.

Bersama Juventus, Pirlo mendapatkan banyak gelar termasuk empat gelar beruntun Serie A Italia. Dan diungkapkan oleh Pirlo, dia memang sempat memiliki masalah dengan pelatih Milan saat itu, Massimiliano Allegri karena perbedaan pendapat.

Dan perbedaan pendapat itulah yang menjadi alasan Pirlo angkat kaki dari San Siro, lebih lengkap Pirlo berkata: “Ada masalah dengan Allegri di Milan, karena saya mendapat kendala cedera selama empat bulan tersebut. Saya kembali ketika tim itu melakukannya dengan baik dan itu sulit baginya mengubah formasi serta tekanan menjadi juara di Milan membuat saya tidak baik,”

“Dia akhir musim adalah waktu yang tepat bagi saya untuk segera mengambil tindakan, meski 10 tahun berkarir di Milan, saya berpikir ini saat nya bagi saya untuk berubah karena saya butuh sesuatu yang baru, tantangan yang berbeda. Saya ingin pengalaman baru dan saya mencoba Juventus,” tutupnya.

Ketika di Milan sendiri, Pirlo mendapat apa yang ingin pemain lain dapatkan. Dimana dua gelar Serie A, satu COppa Italia, satu Piala Super Italia, dua Liga Champions, dua Piala Super Eropa dan juga memenangkan trofi Piala Dunia Antarklub sudah dia dapatkan bersama Milan.

Kross Bandingkan Era Zidane Dengan Ancelotti

Dalam kesempatan terbuka, gelandang tengah Real Madrid, Toni Kross mencoba mengungkapkan beberapa perbedaan dalam era kepelatihan Zinedine Zidane dengan Carlo Ancelotti.

Ungkapan Kross ini berdasarkan kesiapan kedua tim Real Madrid yang akan bertemu Bayern Munchen dalam ajang perempat final Liga Champions bulan April mendatang.

Berdasarkan catatan akhir nya, Ancelotti berhasil mengantarkan EL Real menjadi juara Liga Champions pada musim 2013/14, sebelum akhirnya kini menangani Bayern Munchen. Sementara Zidane sukses membuat tim ibu kota memenangkan trofi Eropa di musim perdananya pada tahun 2015/16 lalu.

Atas kerja sama yang sudah berlangsung lama dengan Madrid, Kross pun mengungkapkan beberapa perbedaan antara Zidane dengan Ancelotti.

“Zidane mengeluarkan ide jelas yang bisa ditangkap langsung oleh pemain. Dia tidak butuh 20 menit pidato motivasi, dia tidak butuh itu,” terang Kross kepada media.

“Kehadiran nya sudah memberikan motivasi kepada pemain, hal ini sejalan dengan gaya sehari-hari dia. Sedangkan Ancelotti banyak berbicara dengan para pemainnya, membentuk hubungan yang amat erat dan ruang ganti Real Madrid amat sedih ketika klub memutuskan dia harus pergi.” tandasnya.

Sampai di penghujung La Liga musim ini, Madrid masih berada di puncak klasemen dengan keunggulan dua poin atas Barcelona. Namun Cristiano Ronaldo cs berkesempatan untuk memperlebar jarak karena masih menyisahkan satu laga tunda kontra Celta Vigo.